Kamis, 21 Oktober 2010

" kepada AA "

A....
ini adalah pertama kali kutulis untukmu, aku berharap engkau dapat mengerti tentang apa yang aku rasakan selama ini.
A....
aku juga tidak mengerti mengapa secepat itu aku jatuh cinta kepadamu, padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kita hanya menjalin komunikasi lewat telpon genggam, namun terasa begitu akrab, begitu intim. Bahkan begitu mesra.
Sehari saja tanpa saling telpon serasa bagai setahun tak jumpa. Ada rasa kerinduan dihati, ada rasa kangen ingin mendengar suara merdumu,
"bisa ga ya sehari aja kita ga tlp....?" begitu tulismu di sms.
Ah.....A,
aku juga ga bisa 'sehari tanpa telpon kamu'. Buktinya aku selalu hubungi kamu, sampai malam pun aku telpon kamu, oya sampai waktu makan sahur kan A ?Ya, kita tidak bisa lewati waktu tanpa saling telpon.
Rasa kebersamaan kita semakin kental, semakin intim walau belum pernah berjumpa. Hingga kamu benar-benar ingin mengetahui aku, melihat wajahku seperti apa?

Haha...
aku tersenyum sendiri ketika tahu kau ingin segera melihat aku, yeah...aku beritahu kamu alamat FB-ku karena disana ada photo aku dan juga.....anak-anakku.
Ternyata semua yang kau lihat di FB itu semakin membuatmu ingin mengenal aku lebih jauh lagi.

Aku janjikan tgl 13 September, setelah lebaran kita ketemuan kamu setuju.

Dengan menaiki busway, ku datang ke Taman Kota, sesuai yang kau sepakati. Kau memandangiku heran;"lho kok wajahnya beda ma yang di fisbuk ya...."

aku tersenyum saja saat itu sambil menyapu seluruh wajahmu dengan mataku.
Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri kalau sebenarnya aku langsung tertarik kepadamu. Bahkan aku jatuh cinta !

Ya, rasa cinta itu melekat kuat hingga kutulis kata-kata ini disini. Walaupun akhirnya kau katakan bahwa kau menolak cintaku A....

Aku kecewa memang A, kecewa sekali mengapa tidak dari pertama kali kau katakan kalau tidak cinta aku setelah rasa cinta itu menumpuk dibalik dada ini?

Kenapa A? Kenapa kau beri aku harapan? Kenapa kau beri aku angan kalau akhirnya kau campakkan?!

Kenapa A?
Apakah kau hanya ingin mempermainkan aku?
Semua ucapanmu sungguh membuat aku terpuruk setelah aku sekian lama tenggelam dalam kedukaan panjang.
Kau tambah lagi penderitaan hidupku dengan harapan semu. Padahal aku begitu berharap kau adalah perempuan kedua yang menjadi 'Mama' bagi anak-anakku.

Tapi sekarang, semua itu sirna bagai asap tertiup angin. Engkau tinggalkan aku begitu saja.

Aku menyadari siapa aku A, aku hanya seorang duda beranak 2.
Aku gak pantas bagi kehidupanmu, aku ga pantas bagi masa depanmu.

Biarlah aku jalani kehidupan ini walau tanpa kamu A.
Aku masih punya rasa bahagia dengan dua anakku: Fahri dan Adrian walau tanpa seorang Mama bagi mereka......

A....
kusudahi tulisan ini dengan bait lagu yang menjadi nada sambungmu: "kalau memang berakhir, akhirilah saja.....bila menang kau pergi, tinggalkanlah........."

*buat: A di Kembangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar